Salah lalu Marah

“Kopincut ya Mas. N1 No 11? Atas nama ******.”

“Betul. Tapi enggak masuk ke grab food ya.”

“Bukan makanan. tapi orang.”

“Wah saya enggak pesan Grab tuh mas. Mungkin salah orang, coba dicek lagi.”

Di atas adalah obrolan saya dengan driver Grab yang nyasar ke Kedai. Niatnya mau jemput orang yang dialamatkan ke Kedai. Padahal salah alamat.

Selang beberapa menit, si abang Grab lalu balik lagi ke Kedai. Dia bilang kalau, si bapak yang pesan marah-marah karena enggak segera dijemput.

Driver Grab dan saya kebingungan. Kok bisa-bisanya orang pesan salah ngasih alamat tapi marah marah lalu membatalkan sepihak.

Bukan cuma soal berapa uang yang akan didapat driver Grab itu. Tapi gimana menghargai orang lain yang sedang bekerja cari nafkah. Mengapa tidak bisa bicara baik-baik. Bukan malah lantas marah-marah.

Saya lalu tanya lagi siapa namanya yang pesan. Ternyata tetangga yang tidak jauh dari kedai. Saya tahu sosoknya. Paruh baya. Puluhan tahun saya mengenalnya sebagai orang yang bijak dan mampu mengendalikan emosinya dengan baik.

Baru saja dia batalkan pesanannya dengan kasar. Tidak ada sepuluh detik, pesanan berikutnya masuk ke driver Grab. Si driver mengucap syukur, lalu pamit.

Peristiwa ini meninggalkan bercak hitam sosok yang dulunya saya kenal baik itu. Dia yang salah lalu menyalahkan orang lain sungguh tidak bisa saya tolerir.

Saya jadi belajar.

Bahwa menurunkan ego untuk meminta maaf memang berat.

Saya jadi ingat pesan Bapak saya.

“Siapapun kamu, mau jadi apapun kamu. Kalau ada masalah, biasakan minta maaf. Itu menjadi pengingatmu, kalau kamu tidak sempurna”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s