Menulis: Hobi dan Profesi

Komitmen menulis satu hari satu tulisan di blog memang berat ya. Berkali-kali saya mencoba konsisten menulis tiap harinya, berkali-kali pula harus kembali di titik 0. Niat nulis setiap hari. Lalu menjalankannya. Alasannya enggak konsisten nulis ini beragam. Enggak sempat karena banyak kerjaan lain lah. Waktu yang dirasa begitu cepat berlalu, lah, Sampai ide yang tiba-tiba hilang ditelah kemalasan. Yang terakhir itu alasan klasik banget. Haha!

Bersyukur triwulan terakhir tahun lalu saya dapat kerjaan menulis untuk sobatask.net. Jadi, mau enggak mau jadi ada alasan lagi untuk rutin menulis. Enaknya, proses diskusi dengan tim, wawancara dan menulis dilakukan di rumah via daring, Temanya tentang Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR), dengan sasaran pembaca remaja. Isu yang tak asing lagi bagi saya, setidaknya delapan tahun terakhir. Total ada 10 artikel yang saya tulis untuk sobatask, salah satunya tentang Female Genital Mutilation (FGM) – biasanya disebut sunat perempuan – judulnya Lepas dari Belenggu Sunat Perempuan.

Menulis artikel dengan tema yang jauh dari kata ringan itu jelas sangat menantang. Apalagi jika diminta untuk mengemasnya menjadi lebih enak dibaca. Tentunya perlu menyesuaikan untuk siapa tulisan ini dibuat, dengan tidak mengurangi esensi pesan yang ingin disampaikan, berdasarkan data dan fakta yang ada. Nah, nulis artikel kayak gini ini emang enggak mudah. Tim sobatask menginginkan artikel yang mengeksplorasi fakta berdasarkan wawancara dengan remaja. Tantangannya harus berburu dengan deadline, yang sebenarnya cukup longgar jika dikerjakan sesuai dengan rencana.

Sebagai profesi, tentunya menulis adalah hal yang menyenangkan. Bahagia karena bisa mengerjakan apa yang disuka, sekaligus berbinar-binar kala sudah ditransfer. Haha.

Tapi ya gitu, perlu mengumpulkan lagi semangat kalau kita mau konsisten nulis. Kadang udah semangat nih di depan laptop, tiba-tiba kekhawatiran muncul. Ya, khawatir kalau tulisan kita nanti dianggap orang beginilah, begitulah. Padahal sebagai hobi kita kan sebenarnya nulis ya bisa aja untuk mengungkapkan perasaan saat itu, merangkum peristiwa, atau hanya ingin sejenak membuka ruang sunyi dari ramainya keseharian. Jadi, sepertinya memang perlu melepas kacamata orang lain untuk menilai diri kita. Termasuk ketika mau mulai nulis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s