LEYJATI

“dukkk…”

Sepakan tendangan sudut melengkung mendekati gawang lawan. Bola melayang mendekati arah kepala bek lawan yang kokoh bak tembok berlin. Bola melengkung mengecoh penjagaan lini belakang lawan. Lengah, si gelandang muncul dari lini kedua menyundul bola ke sudut lawan. Gol! Gol! Gol! Luar biasa. Leyjati. Ia dekati sang pengumpan. Tos!

Senarai Leyjati, namanya. Ley, nomor 10, terbaca di balik punggung jerseynya. Sayap kanan Jak City, tim kebanggaan Jakarta. Satu-satunya pesepakbola perempuan Jak City, bahkan di Liga Utama Indonesia. Ley mendobrak budaya patriarki di sistem sepakbola Indonesia yang hingga kini belum ada Liga Sepak Bola perempuannya.

“Siapa bilang perempuan tidak bisa main bola? Saya akan membawa Indonesia menjuarai Piala Dunia Perempuan lima tahun mendatang. Tolong dicatat,” ungkap Ley saat press conference usai pertandingan Jak City menghadapi Bandung United, yang berakhir 3-1 untuk Jak City. Ley menyumbangkan satu gol dan satu assist.

Sejak usia lima tahun Ley mulai akrab dengan si kulit bundar. Ayahnya Sugiman, mantan kiper Benteng Tangerang era Liga Utama sekitar dua puluh lima tahun silam. Sugiman gantung sepatu karena cidera patah kaki dalam pertandingan. Sejak itu ia harus beraktifitas dengan kursi roda. Ia kesulitan mendapatkan pekerjaan. Beberapa klub dan perusahaan menolaknya karena keterbatasannya itu. Bahkan Klub tempatnya bernaung dan Federasi Sepakbola Indonesia tidak memberikan sepeser pun bantuan, karena dianggap hal yang biasa terjadi dalam sepak bola.

Dalam kesulitannya, akhirnya Sugiman menemukan usahanya, mereparasi si kulit bundar dan sepatu bola. Di sana pulalah ia bersua Harjati, pekerja rumah tangga yang kala itu mampir ke bengkel bolanya untuk mereparasi sepatu sepak bola milik anak majikannya. Tanpa ba bi bu, ia pun gerak cepat melamar Harjati. empat tahun menikah, lahirlah Senarai Leyjati ke dunia yang keras, di sebuah puskesmas cilik di Kemayoran.

Kemayoran bukanlah tempat yang asing bagi Ley. Selain tempat kelahiran dan tempatnya bertumbuh, di sana berdiri Metro Stadium, kandang kebanggan Jak City. Sekitar tiga kilo setengah dari stadion, gubuk sederhana Ley, Sugiman dan Harjati berdiri. Tepat di pinggiran kali item Kemayoran. Sudah tak terhitung ratusan kali mengalami ancaman penggusuran, tapi selalu selamat. Kali item ini menjadi saksi pula lahirnya pesepakbola perempuan pertama yang bermain untuk liga sepak bola utama di Indonesia yang semuanya diisi oleh laki-laki.

“Ley, enggak balik lo?” Tepukan tangan Manajer Jak City Bengky Gestawan membangunkan Ley dari lamunannya.

“Wah Mas Bege, kaget gue.”

“Ngelamunin apaan sih lo, pertandingan pertama lo udah main gas pol gitu, keren banget!”

“Ah legend bisa aja. Enggak mas, enggak ada. Gue balik dulu ya.” Segera diinjaknya pedal sepeda menuju rumahnya.

“Istirahat Ley. Sampai besok!”

Menuju rumahnya, Ley tersenyum simpul. Ia sangat mengidolakan Bege. Pemain legenda sepak bola Indonesia yang menurutnya bukan cuma piawai mencetak gol di lapangan hijau. Di luar lapangan Bege kerap kali terlibat dalam gerakan kemanusiaan. Perjumpaan Ley dengan Bege pun terjadi di luar lapangan hijau kala Ley menjadi relawan di Pita Merah, NGO yang bergerak untuk isu HIV dan AIDS Perempuan. Ley kala itu masih bermain di Sekolah Sepak Bola Angkasa. Bege kerap kali diundang untuk mengisi sesi coaching clinic di SSB Angkasa. Kini Ley tidak menyangka, ia bisa memperkuat tim yang dimanajeri oleh idolanya. Sejak memutuskan pensiun dari Jak CIty dua tahun lalu, Bege direkrut Jak City untuk mengelola manajemen tim itu.

“Ley, tidak ada yang tidak mungkin. Semua itu bisa diwujudkan kalau kita berusaha. Ya memang berat menjadi pemain sepak bola perempuan di kultur laki-laki begini. Tapi gue yakin lo bisa. Besok Jak City mulai rekrutmen pemain baru, gue akan mengusulkan Jak City untuk rekrut lo.”

“Mas, lo tau sendiri lah. Boro-boro sekarang ada SSB perempuan apalagi Klub Mas! Gue dan teman-teman masih harus gabung sama laki-laki untuk membuktikan diri kita mampu. Apalagi Jak City klub besar, dan belum ada klub di Indonesia yang rekrut pemain bola cewe.”

“Ley, gue gak menjanjikan apa-apa. Mari kita berusaha maksimal dengan apa yang kita bisa. Lo pemain hebat Ley. Lo menginspirasi banyak anak-anak perempuan di Indonesia masuk SSB untuk latihan bola. Lo visioner Ley!”

Momen dua tahun lalu itu yang terus terpatri dalam ingatan Ley. Ia kerap masih enggak percaya, bisa melewati berbagai rintangan untuk menjadi pemain sepak bola perempuan pertama di liga utama Indonesia yang didominasi laki-laki. Setelah tahun lalu manajemen Jak City menolak Ley. Gerilya Bege untuk meyakinkan manajemen Jak City yang patriarkis, dan upaya Ley untuk terus berlatih maksimal membuahkan hasil di tahun ini. Bahkan Ley memakai no punggung 10, nomor yang pernah dipakai striker legenda Indonesia Jazzy Poetiray kala merumput di Jak City.

“Eh perempuan tuh di rumah, masak, jaga anak, dan ngangkang deh buat suami. Haha!”

“Woi, lo nyamar jadi laki biar bisa maen bola ya, makanya panjangin tuh rambut. Jadi cewe tulen dong!”

“Hoi laki jadi jadian, nendang aja enggak becus.” “Pakai nomor 10 lagi lo, mau jadi legenda lo? Ini olah raga laki cuy!”

Ungkapan ini seringkali dilontarkan bukan hanya oleh pemain klub lawan, tapi juga di Jak City. Cemoohan ini sering membuat Ley patah arang. Belum lagi pemberitaan media yang sering menyudutkannya. Kalau jemari netizen enggak perlu lagi ditanya, setiap Ley mengunggah fotonya di Instagram, Sembilan puluh persen kata-kata ejekan bahkan yang melecehkan sering dialaminya.

“Sendirian saya boleh patah sekarang. Tapi lihat sepuluh tahun ke depan. Masa depan sepak bola Indonesia ada di tangan perempuan!” Tulis Ley pada laman Instagramnya, beserta fotonya ketika mencetak gol pertamanya untuk Jak City. Langsung ia matikan ponselnya dan kembali latihan. Ia jelas tahu beberapa detik ke depan, postingannya pasti dinyinyirin sama netijen budiman nan patriarkis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s