Sisy, Human Standee dan Nikahan Dokter Dama – Mas Oki

Selamat menikah Dokter Dama dan Mas Oki, Sabtu 9 November di Gedung PTIK Jakarta Selatan. Semoga bahagia iringi setiap lika liku jalan pernikahan ke depannya. Ya, saya dan kawan-kawan Kembang Girang didapuk menjadi panitia nikahannya. Meskipun pada hari H, Sisy ada di Maastricht, Belanda untuk short course, dia tetap “hadir” bersama saya di nikahan sahabatnya…

Rating dan Televisi Publik: Persimpangan Jalan Antara Kepentingan Publik atau Pasar

Setelah tiga dekade, akhirnya dua program acara TVRI bertengger di puncak tangga rating acara TV Indonesia pada 5 September. Masing-masing yaitu pertandingan kualifikasi Piala Dunia antara Indonesia menghadapi Malaysia dan Program Polytron Pre Game Show. Ada pihak yang mengapresiasi. Ada pula yang mengkritisi. Lalu, bagaimanakah seharusnya TVRI menyikapi rating? Saya berada pada pihak yang mengapresiasi…

Pertandingan Cinta Kasih

“Bun, bagi Bunda apa sih yang paling penting di Dunia?” “Hmm.. Apa ya? Cinta Kasih.” “Wow.” “Kenapa Din?” “Enggak apa-apa. Aku pikir Bunda akan jawab kayak orang lain: harta, keluarga, rumah. Ternyata jawaban Bunda di luar dugaanku.” Percakapan ini terjadi antara Mbak Tina, kakak sepupu saya yang tinggal di Malang, dengan anaknya Dinda (11). Setelah…

Kala Senja Mati

Ziarah ku ke makam senja Ya, senja telah mati Diobral anak indie Terjerembab ke bumi, kaku Tak perlu kau tangisi Ia telah merasa hilang esensi Sejak menanamnya dalam lirik Adalah tentang pundi pundi Biarlah ia pergi menuju tempatnya Kembali mengisi energi Yang sempat hilang Tersengat komersialisasi

Sekap Terang

Jika mantra mantra tlah usang Mengapa kau terus kokang senjata Berpeluru ayat ayat Sucinya luntur dimakan benci Pantas ibu pertiwi berpedih hati Kita kita saling menikam Menyekap terang Pura pura tak berasa

Merdeka?

Merdeka Rasa rasanya Hanya permainan kata kata Bagus rupa Dan kita Larut memainkan Dan dipermainkan Olehnya *catatan malam proklamasi

Dihisap Kuasa

Sesap kedalaman Manusia nir manusia Endap endap merayap Memati nalar Jiwa terkurung Penjara kekosongan kosong Melahap segala Terjebak di antara Ombak menderu Tembus raga Lalui suara suara Ketika kita Setiap hari Menjadi jadi Kuasa melupa Sejati manusia ~Pantai Merak, 16 Agustus 2019

Sejatinya Kurban, Rajut Simpul Kemanusiaan

Di era digital, hari Idul Adha dibanjiri dengan foto-foto horor penyembelihan hewan kurban di ruang publik dan makan daging kurban yang membanjiri berbagai platform media sosial. Terutama saat nyate-nyate. Lalu, TV juga enggak bosannya menyiarkan hewan kurban yang diserahkan RI1 dan RI2. Tentu saja hewan kurban dengan kualitas nomor wahid. Sapi gemuk besar, berpunuk menjulang…

Belum Bisa Move On Dari Pilpres

“Harusnya Prabowo nih yang menang……” kata supir taksi online, saat mengantarkan saya balik dari kantor. Sebut saja Pak X. Kalimat ini membawa pada obrolan tentang Pilpres (lagi). Jujur saya bosan. Bahasan 01 dan 02 harusnya sudah selesai. Apapun hasilnya harus dihargai. Masih ada pekerjaan yang lebih berat lagi: mengawal demokrasi. Itu bagi saya. Namun nyatanya…

Cerita Minimalis #1 : Dimulai dari Meja Kerja Kantor

Berawal dari cerita Sisy soal series Netflix Tidying Up with Marie Kondo. Lanjut, nonton film dokumenter Minimalism: a Documentary about The Important Things karya Matt D’Avella. Lalu, membaca buku Goodbye, Things-nya Fumio Sasaki kian menebalkan semangat hidup minimalis. Selemah-lemahnya iman, mengurangi barang-barang yang tidak saya butuhkan. Sebagai seorang yang gemar menimbun barang (setidaknya dari banyak…