Menuju Esok

Pudar tunggu Di antara cahaya Menerang Perlahan redup: lenyap Penglihat menggelap Menuju hari tujuh belas Bulan empat Dua kosong satu Sembilan Memilih tak memilih Adalah petaka katanya Digelandang ke sudut Sumpah ceramah berupa rupa Kerumunan kerumunan atas nama Pasung jiwa jiwa merdeka Konstruksi ahli rasa Membusuki jelaga dalam bejana

Ngobrol Kopi Indonesia bareng Poulo Coffee

Bolak balik ke AEON Mall Jakarta Garden City baru Desember tahun lalu melipir ke Poulo Coffee. Tepat di hari Natal. Beruntung banget saya dan Sisy bisa #bersilatukopi langsung dengan Bang Poul, pemilik Poulo Coffee. Kami menyebutnya Sang Seniman Kopi. Saya langsung mencoba V60 Gayo Crystal, yang langsung diseduh Bang Poul tepat di depan muka. “Saya…

Remang

Lintas aksara Kita kenalinya Merekam tikam Mencumbu silam Arah remang Tidak ada cahaya hari ini Entah untuk esok Menitik gamang Yang muda Bersilau galau Yang tua Merampas pulau Sehirupan bhineka Semangkuk aneka Rasa rasanya jenaka Hidup serupa boneka Mulut harimaumu dengungkan unicorn Menghitung kepala Tanah sudah kau jajah Lalu pikiran ditempa punah Merdeka tak pernah…

Rakuasa

Merancang bangun persatuan Lalu membualinya Seketika Hanya rancak sebentuk kata Mengumpul kepul Berbentuk angka Merangkak kau mencumbunya Bermain lamuti manisnya Berteriak lantang memanjat santun Tinju siapa yang menghadang Telan logika

basa basi debat pil pret

ruang dan waktu sekap deru mengangkang gemuruh kata, hilang kita menyela di antara waras dan gila di antara waras dan gila abu abu menyalak rupa rupa luka sapa keningmu setelah menuntuti nafas terakhir: kentut bajingan itu bernama pemilu lubang kakus kotak suara menunggu ditusuk: berak

Seni Merayakan Kritik di Tengah Kegaduhan Praktik Politik

Partai Senang Revisi. Anda sudah barang pasti tidak akan menemukannya di deretan daftar Partai Peserta Pemilu 2019. Sebagai sebuah karya seni, Partai ini akan menjelajah nalar kita. Mempertanyakan berbagai kegaduhan politik negeri ini jelang April. Memperolok-olok kenaifan berpikir politisi dan kaum elit negeri. Sekaligus tes ombak, sudah sejauh mana bangsa ini mampu menerima kritik dari…

Tanpa Jeda

Cinta tanpa jeda Menelisik jingga senja Merona disibak hening malam Sebentar kan datang Dingin memaku ruang-ruang hampa Bermekaran kenang Dalam linang gula gula pedih Menyeka harum aromamu Kiranya dahulu setiap yang kau tunjuk Adalah jejak kita Hari hari ini hanya aku aku menunjuknya Sendiri merebah raga Berhenti sejenak melawan rasa Pernah sadar ditumbuk karang Terkubur…

Lagi lagi

Di luar hujan Begitu pula di dalam Jiwa jiwa berkobar rasa Membanjiri begitu rupa Solusi solusi menguap Mesra kau pilih bersuap Lebih baik kulalap tahu isi Tanpa perlu basa basi Ketika suara kau reduksi Hanya serupa ambisi duduki kursi Setelah itu entahlah Konstituen biarkan saja mati membiru Lima tahun lagi Lalu apa lagi Lagi lagi…

Tak Perlu Melarang

Suara suara Tak usahlah berhenti Tabrak laju tembok pembelenggu Rasuki hingga luruh Melodi melodi Mendendanglah bawa pergi takut Yang bergejolak di dada Genggam dan bersenandung bersama Hei hei.. Tak perlu kau atur mengatur suara dan melodi Sayup sayup lirih terbang larut di udara Kelak beri nafasmu tersengal selamanya…. Atur Larang Hanya itu yang kau bisa?

Keluarga Cemara, Merenungi Makna Keluarga

“Tidak ada hari libur untuk membahas keluarga.” Begitu kata Anggia Kharisma, salah satu Produser Keluarga Cemara, ketika sesi diskusi Film Keluarga Cemara pasca nonton bareng dengan Keluarga Besar PKBI di Blok M Square Jakarta, awal Januari lalu. Quotes yang terus mengaliri benaknya itu merupakan kalimat sakti dari Mas Arswendo Atmowiloto, sang pencipta karya legendaris Cerita…