Sampai Kapan?

Masih ada waktu Meski kini masih tergolek membeku Dalam senandung rindu Di kotak pendingin Tentang masa lalu yang tak pernah berani diungkapkan

Pagi dan Malam yang Muram

Malam ini bercerita tentang malam malam yang tak pernah diceritakan, sebelumnya. Tentang pagi pagi menyayat mimpi ceritakan pagi yang tak lekang disayatkan, setelahnya. Kepada siapa lagi kami mengiba, jika malam dan pagi saling memuramkan. Dan di antaranya mimpi mimpi tertidur tiada henti. Dihunus asap, menembus jantung kota; letak kita berpijak. Dalam jaring hingar bingar politisasi…

Rintik tak lagi puitik

Kala alam marah. Rintik tak lagi puitik. Menerkam tikam derap langkah serdadu air. Cepat menyerbu tanah. Kita merenung renung. Apa yang salah. Meratap tatap di antara reruntuhan dosa manusia. Rintik tak lagi puitik. Senja memburam. Cahayanya dilalap bencana. Duka datang seketika tak diundang. Rintik tak lagi puitik Rintik tak lagi puitik Rintik tak lagi puitik…

Tanpa Jeda

Cinta tanpa jeda Menelisik jingga senja Merona disibak hening malam Sebentar kan datang Dingin memaku ruang-ruang hampa Bermekaran kenang Dalam linang gula gula pedih Menyeka harum aromamu Kiranya dahulu setiap yang kau tunjuk Adalah jejak kita Hari hari ini hanya aku aku menunjuknya Sendiri merebah raga Berhenti sejenak melawan rasa Pernah sadar ditumbuk karang Terkubur…

Resolusi

Awal tahun Selalu saja Bertaburan resolusi Hmm… bahkan sampai diskon pun Resolusi Resolusi Resolusi Akhirnya menguap Lalu mati Bertabur janji-janji Melancongi surga-surga Dalam harap cemas mengarungi 360 hari Wahai resolusi Sampai jumpa di penghujung tahun depan Nanti kita kan mengucap lagi dan lagi Sesuatu yang tak terwujud lagi Resolusi Resolusi Resolusi *Dalam Buku Antologi Puisi…

narasi demokrisis

tiba tiba kata kata hilang lenyap. kerja kerja kerja telah memakannya. memamah biak tak henti henti. sontak tubuh terus bergerak tanpa tersirat teriak. terseret arus utama ketika hidup memerlukan amunisi. berhala berhala atas nama dunia dalam genggaman dan masa depan bertabur emas nyaring menggema suara suara pesta di kepala. kita tidak tidak lupa akan kita…

Juang

Alam pikir dan segala kebajikan di dalamnya, menyeduh hari, merunduk hati. Selamat tinggal nafas terengah-engah kejar impian. Berselancar di atas harapan tak mungkin tak terjalani. Esok hari kan segera tiba. Ketika senja menutup senyumnya. Mengulum rindu. Tak pernah ada habisnya. Merangkum kenang dalam secangkir kopi. Pahitnya melega. Buka sekian cerita di hadapan. Sampai jumpa pada…

Rawat Hutan

Hutan … Surga Tuhan Untuk kita Kendali telan semua Hutan … Punya cerita Tentang damai Dirampas penjajah Hutan … Saksi jiwa Manusia menahan lapar Di tanahnya sendiri Hutan … Penanda kelam Dipaksa tunduk Di tanah airnya sendiri Hutan … Kita tak pernah terhenti Jalin interaksi Meski suara ditikam Hutan …

Hilang Sudah Esok hari

Sang surya datang Menyusuri hening pagi Peluk kedalaman suara-suara senyap Bernama keadilan   Kita sampai jemu Menunggu sadarmu Menahan rakusmu Ego sialan!   Manusia tanpa pikir Lelehkan nurani Menguap bersama pergantian hari Hingga tak ada kata laju lagi   Kita tak tahu lagi entah Ada apa manusia manusia kita Hilang sudah esok hari Bertabrakan tiada…

Kabar

Tak peduli dibaca atau tidak Aku akan terus berkirim kabar Meski jauh dari istimewa Setidaknya kata sudah mewakilkan   Serupa puing di reruntuhan Rasa terserak itu ada Di balik lengking senyuman Sirat sayat batin keagungan   Jika hikayat tertambat Merenungkan kisah cumbu jiwa Tak perlu lagi tanyakan Apa masih ada rasa   Hari esok melajukan…