Kenang

Kuingat kau pernah mencarinya Meski kini ada hanya disetubuhi ingatan Menyematkan tanya untuk masa mendatang Kau gelar karpet duka bernama kenangan   Setelah saling bertatap Bicara dalam diam Apakah rindu ini bersekat muram Kita sepakat pada langit menggantung gelap   Betapa renta jika tahu usia Yang tak lagi bisa menggenggam tatapan Gelak tawa bersembunyi Pecah…

Anak-Anak Matahari

Tak sedikitpun melangkah mundur Meski menggigil ditiup pagi Terbakar dijilat siang Getir dilalap malam Anak-anak matahari Mendudukkan sunyi Pada kota yang gaduh Menyelipkan mimpi Masuk merasuki Alam pikirnya Lantas raib dimakan rayap Merambati dinding hati Suara-suara rapuh Siap saji di hajatan lima tahun berikutnya    

Bantah

Suatu masa Senandungkan gundah Bunga-bunga mengabu menghitam Gelisah digentayangi harapan   Pernah terlintas menerjang keindahan Yang tampak semu hiasi bayangan Ketika raga tak lagi mampu bertahan Dari keadaan begitu lama dalam bungkam   Hari hari kini adalah perjalanan satu rasa Hembus hangat kedalaman surya Cahaya yang kadang tinggikan Hingga terjerembab dimakan tanah   Bantah, bantah…

Eksesif

Jika rasa terus dipacu Menuju titik akhir Semua ingin menjadi milik Masihkah ada sisa?   Jika kau paksa telan semua Merampas yang bukan milik Lekat dalam keseharian Buat apa itu semua?   Menebalkan dinding pertukaran makna Tanda tanda mengikatmu Pergi kian jauh Memasung rongga luka   Jika jiwa tak lagi nafaskan Gelombang tak mampu bangkitkan…

Menyapa Semesta

Semesta Kau pasti kenali Belaian sayap burung besi Dan deru dengkurannya   Saat senja merona Mengintip antara gradasi aneka warna Di kanvas langit Kala pandang merayapinya   Dari kejauhan terlintas sang pencakar langit alami Melambai padaku Seraya berkata bahwa ia tak mengapa Jangan merisau

Dua Puluh Lima

: Marsinah   Sang waktu berlari cepat Dua puluh lima tahun tertutup rapat Sederet rekayasa dibuat Dua puluh tahun reformasi, demokrasi berkarat   Jangan pernah sekalipun melupakan Perjuangan perjuangan mengusut tuntas Telisik fakta fakta yang sengaja diserakkan Kebenaran disekap sulit hembuskan nafas   Namun suara-suara itu tak bisa kau bungkam Ia serupa belati menikam tepat…

Tentang Sesuatu

Tentang sesuatu Terkebas tebas Menanti kilauan mimpi Tertindih benih kebencian Dan ribuan maaf terbang sia sia Pergi dibawa alap alap Melintasi biru angkasa Diletak di atas etalase awan Hingga seluruh penghuni bumi Menyerahkan maafnya Si Aku tak lantas tenang pergi Tertunda ia menuju alam ketiadaan Hingga waktu waktu temui titiknya Maaf kembali ke bumi Menanya…

satu mei

hari ini matikan mesin mesin kerjamu kuat menguat bersatu dalam barisan barisan perlawanan. merah merahkan jalan jalan muntahkan segala gala tuntutan yang hanya manis dijanjikan para pengabdi kapital dan kuasa. satu mei selalu berulang ulang mendengung seraya menyelundupkan pelantang suara memekik pekik di gendang telinga para pemilik modal dan pembuat kebijakan kebijakan tak bijak. gerus…

persekusialan!

sekumpulan massa terlupa membawa otaknya di suatu pagi hari bebas kendaraan berasap hanya sekian meter dari sapaan tugu selamat datang. sibuk teriak ganti ganti tanpa peduli apa yang ada di hati manusia manusia lainnya. hei, berhati hatilah kau yang mengatasnamakan pemuda apalah apalah apalah hanya punya caci tanpa peduli. paham pahamilah persekusi kepada manusia manusia…

Ungu; Heptologi Puisi Bianglala (7)

Segera sudahi nafas memburumu Jika yang ada di nadimu adalah kepentingan Naga-naganya membius harum mesra cinta cinta manusia Nyata nyatanya sibuk keliling kota memutar balik fakta   Kau isi penuh kepala dengan wewangian kentut tentang masa masa di depan sana Masa masa yang kita saja enggan menduga duga Kau selalu bilang di masa itu kita…