Kabar Kabur Libur

kata kata kelu mengalir tiada bertuan, dari balik jendela kamar kamar yang hawanya membusuk tak terkirakan. sudah berjarak lamanya tuhan tak sama sekali punya niatan berkunjung. kurasa tikuspun mendadak mati menjengkali jalan jalan bercak bercak sejarahmu yang tak tuntas. kecoa seketika mengering garing. mending bisa dikunyah semacam kurma, lha ini busuk membesok. biarlah saja hari…

Nila; Heptologi Puisi Bianglala (6)

Derap menderap langkah cahaya Menusuk tusuk jantung jiwa Dalam keheningan sepi, merasa, meraba Mengalun simpul-simpul solidaritas   Menelisik telisik kedalaman gelombang Menebal tebal intoleransi Dalam keramaian kerumun, menyerang, menghakimi Mengepul rantai saling curiga   Belajar gejala dari jelaga tikam menikam Menawan tawan bhinneka tunggal ika Kian jenaka hapus budaya dari peradaban Manifestasi gerakan pemurnian keyakinan-keyakinan…

Biru; Heptologi Puisi Bianglala (5)

Biarkan pagi mengayun rindu Kelak datang masanya Kita membaur di angkasa raya Kala jiwa saling lebur tawa melagu Akhirnya bersua di suatu titik Setelah darah harus tertumpah Amarah meradang Hanya karena beda asal, simbol tuhan dan warna kulit Mungkin kau pernah lupa rasanya rindu Damai dan adil hilang dalam kosa kata pikirmu Maka, ketika politik…

Hijau; Heptologi Puisi Bianglala (4)

Hijau hijau Telan ranjau Sekap aneka warna Menuju titik punahnya   Hijau hijau Mencapai kata sepakat Tuding sesat menyesat Jalan pintas amankan posisi   Hijau hijau Menghakimi sepihak Seolah Surga berjarak sejengkal dari alam pikirmu Padahal alam pikirlah surga sesungguhnya   Hijau hijau Lidahmu deras mengucap kafir Memuntahkan ke sesama Kebencian temukan rimanya

Kuning; Heptologi Puisi Bianglala (3)

Hey siangmu yang menyala Kutahu kau pasti terjaga Kuning menguning menyinari Serpihan hati   Meski serangkaian patah tak jua sirna Kau tatap, lara membara Suara berlebur getih Menyambut perih   Seketika kau rebut kesunyian Dalam perasaan syahdu berceloteh dengan Sang Pemberi Hidup Rampas kau rampas Semangkuk sakral ibadahku, yang mungkin kau tak kehendaki   Sadari,…

Jingga; Heptologi Puisi Bianglala (2)

Saat selasar langit merona jingga Pertanda hari sudah masuki waktu rentanya Datanglah senja mengayuh peradaban Titip harapan pada esok yang penuh misteri   Seperti yang tampak di hadapan tuan tuan berkalung kuasa Tanah pertiwi yang kita tinggali tak kunjung membaik Penghuninya senang bermain simbol simbol Tuhan bentukannya sendiri Kebenaran milik para pemegang kunci paling  …

Merah; Heptologi Puisi Bianglala (1)

Demokrasi patah arang Sedikit lagi masuk jurang Oleh mereka-mereka yang meninggikan berang Apa-apa main larang larang   Berhentilah halalkan perang Hanya akan redupkan terang Jangankan mengharap surga yang terus kau dengungkan Damai saja kian jauh dari genggaman   Ketika hari kian larut dikunyah senja Merah membasah serupa genangan Mengapa kau makin tak mengenal beda, entah!…

Pertarungan Hati

Butuh nyali menerobos kedalaman sepi Menyesap rongga rongga jiwa Saat mata hati menagih janji-janji Sedang indra penyuara kalah kuasa Kita adalah sekepingan muram Muda mudi yang berada di persimpangan Antara kenangan atau melangkah ke depan Melawan atau membungkam Diam bukanlah pilihan amunisi Ketika suara-suara dikedapkan Dimutilasi dicerai-berai Diawetkan sebagai bahan kudapan Politik dan kapital memang…

Diam itu Emas, Masa Iya?

Katanya diam itu emas Sementara emas Papua dikuras habis Terbang melayang bertukar dollar Masyarakatnya ngontrak di negeri sendiri Ditangkapi, dipukuli, dicap kriminal, dibunuh   Lalu, kita masih layak berdiam? Dan terus larut dalam geram?   Katanya diam itu emas Sementara di pelosok-pelosok, petani dikriminalisasi Dirampas tanahnya, ditanami beton, ditimbun semen Sawah-sawah gembur disulap menjadi pabrik,…

Selamat Malam, Pagi!

Selamat Malam, Pagi! Asap gundah mengepul Dalam selubung reuni-reuni Syahwat politik 2017 terlampiaskan Kini… 2018… 2019… dst… dst… Hingga nafsu kuasamu setara dengan tanah Kembali menghadap-Nya   Selamat Malam, Pagi! Dan kumpulan mimpi-mimpi Mengabu-abui persatuan Bernada sumbang dikentuti politisi Hingga simbol menjadi jimat Para cukong  dan mafia turun gelanggang berbagi peran   Di terangnya kita-kita…