Ungu; Heptologi Puisi Bianglala (7)

Segera sudahi nafas memburumu Jika yang ada di nadimu adalah kepentingan Naga-naganya membius harum mesra cinta cinta manusia Nyata nyatanya sibuk keliling kota memutar balik fakta   Kau isi penuh kepala dengan wewangian kentut tentang masa masa di depan sana Masa masa yang kita saja enggan menduga duga Kau selalu bilang di masa itu kita…

Nila; Heptologi Puisi Bianglala (6)

Derap menderap langkah cahaya Menusuk tusuk jantung jiwa Dalam keheningan sepi, merasa, meraba Mengalun simpul-simpul solidaritas   Menelisik telisik kedalaman gelombang Menebal tebal intoleransi Dalam keramaian kerumun, menyerang, menghakimi Mengepul rantai saling curiga   Belajar gejala dari jelaga tikam menikam Menawan tawan bhinneka tunggal ika Kian jenaka hapus budaya dari peradaban Manifestasi gerakan pemurnian keyakinan-keyakinan…

Biru; Heptologi Puisi Bianglala (5)

Biarkan pagi mengayun rindu Kelak datang masanya Kita membaur di angkasa raya Kala jiwa saling lebur tawa melagu Akhirnya bersua di suatu titik Setelah darah harus tertumpah Amarah meradang Hanya karena beda asal, simbol tuhan dan warna kulit Mungkin kau pernah lupa rasanya rindu Damai dan adil hilang dalam kosa kata pikirmu Maka, ketika politik…

Kuning; Heptologi Puisi Bianglala (3)

Hey siangmu yang menyala Kutahu kau pasti terjaga Kuning menguning menyinari Serpihan hati   Meski serangkaian patah tak jua sirna Kau tatap, lara membara Suara berlebur getih Menyambut perih   Seketika kau rebut kesunyian Dalam perasaan syahdu berceloteh dengan Sang Pemberi Hidup Rampas kau rampas Semangkuk sakral ibadahku, yang mungkin kau tak kehendaki   Sadari,…

Jingga; Heptologi Puisi Bianglala (2)

Saat selasar langit merona jingga Pertanda hari sudah masuki waktu rentanya Datanglah senja mengayuh peradaban Titip harapan pada esok yang penuh misteri   Seperti yang tampak di hadapan tuan tuan berkalung kuasa Tanah pertiwi yang kita tinggali tak kunjung membaik Penghuninya senang bermain simbol simbol Tuhan bentukannya sendiri Kebenaran milik para pemegang kunci paling  …

Merah; Heptologi Puisi Bianglala (1)

Demokrasi patah arang Sedikit lagi masuk jurang Oleh mereka-mereka yang meninggikan berang Apa-apa main larang larang   Berhentilah halalkan perang Hanya akan redupkan terang Jangankan mengharap surga yang terus kau dengungkan Damai saja kian jauh dari genggaman   Ketika hari kian larut dikunyah senja Merah membasah serupa genangan Mengapa kau makin tak mengenal beda, entah!…