Di Jogja, Meresapi Perjuangan Perempuan Lewat Museum dan Perpustakaan

Siang itu sepertinya mentari sedang semangat-semangatnya menyinari Jogja. Panasnya menyengat menembus kulit. Namun begitu niat saya untuk mengunjungi Museum Pergerakan Perempuan Indonesia sama sekali tidak surut. Saya langsung memesan gojek meluncur menuju sana. Hanya Rp 7000 saja dari sekitar Malioboro ke museum. Museum ini secara resmi bernama Monumen Kesatuan Pergerakan Wanita Indonesia. Saya lebih akrab…

Anak-Anak Matahari

Tak sedikitpun melangkah mundur Meski menggigil ditiup pagi Terbakar dijilat siang Getir dilalap malam Anak-anak matahari Mendudukkan sunyi Pada kota yang gaduh Menyelipkan mimpi Masuk merasuki Alam pikirnya Lantas raib dimakan rayap Merambati dinding hati Suara-suara rapuh Siap saji di hajatan lima tahun berikutnya    

Bantah

Suatu masa Senandungkan gundah Bunga-bunga mengabu menghitam Gelisah digentayangi harapan   Pernah terlintas menerjang keindahan Yang tampak semu hiasi bayangan Ketika raga tak lagi mampu bertahan Dari keadaan begitu lama dalam bungkam   Hari hari kini adalah perjalanan satu rasa Hembus hangat kedalaman surya Cahaya yang kadang tinggikan Hingga terjerembab dimakan tanah   Bantah, bantah…

Eksesif

Jika rasa terus dipacu Menuju titik akhir Semua ingin menjadi milik Masihkah ada sisa?   Jika kau paksa telan semua Merampas yang bukan milik Lekat dalam keseharian Buat apa itu semua?   Menebalkan dinding pertukaran makna Tanda tanda mengikatmu Pergi kian jauh Memasung rongga luka   Jika jiwa tak lagi nafaskan Gelombang tak mampu bangkitkan…

Menyapa Semesta

Semesta Kau pasti kenali Belaian sayap burung besi Dan deru dengkurannya   Saat senja merona Mengintip antara gradasi aneka warna Di kanvas langit Kala pandang merayapinya   Dari kejauhan terlintas sang pencakar langit alami Melambai padaku Seraya berkata bahwa ia tak mengapa Jangan merisau

Diam itu Emas, Masa Iya?

Katanya diam itu emas Sementara emas Papua dikuras habis Terbang melayang bertukar dollar Masyarakatnya ngontrak di negeri sendiri Ditangkapi, dipukuli, dicap kriminal, dibunuh   Lalu, kita masih layak berdiam? Dan terus larut dalam geram?   Katanya diam itu emas Sementara di pelosok-pelosok, petani dikriminalisasi Dirampas tanahnya, ditanami beton, ditimbun semen Sawah-sawah gembur disulap menjadi pabrik,…