Kabar

Tak peduli dibaca atau tidak Aku akan terus berkirim kabar Meski jauh dari istimewa Setidaknya kata sudah mewakilkan   Serupa puing di reruntuhan Rasa terserak itu ada Di balik lengking senyuman Sirat sayat batin keagungan   Jika hikayat tertambat Merenungkan kisah cumbu jiwa Tak perlu lagi tanyakan Apa masih ada rasa   Hari esok melajukan…

Di Pangkuan Rindu

Sampai kelak menyatu bumi Aku kan berada pada rasa yang sama Seperti saat pertama kita Mengeja kata :cinta   Lihatlah tumbuhan hijau mewarna hari Kurekam dalam memori Hingga suatu hari ia ada Bercerita bersama di gubuk sederhana kita   Dan hari ini Kita masih ada di sini Merangkai serpihan rindu Dekap erat masa di hadapan…

Kreasi Langgas

Lebarkan senyum Tangan mengepal Ubah tak cukup sekejap Terjal jauh dari lapang   Kreasi kepakkan jati diri Kibarkan langgas Ke langit luas Lepas lepaslah   Injak gundahmu Jika ia meletak belenggu Peluk segala warnanya Tanpa kenal tetapi

Rasa Bahasa

Bahasa menggulirkan kita kepada Negeri bersahut makna Segenggam rasa Yang dipinggirkan   Bahasa menuntun kita menuju Kotak antah berantah Dibumbui beda Yang jamak adanya   Rasa Bahasa Bahasa Rasa Untuk kita yang merajut Cinta tanpa pandang siapa

Kenang

Kuingat kau pernah mencarinya Meski kini ada hanya disetubuhi ingatan Menyematkan tanya untuk masa mendatang Kau gelar karpet duka bernama kenangan   Setelah saling bertatap Bicara dalam diam Apakah rindu ini bersekat muram Kita sepakat pada langit menggantung gelap   Betapa renta jika tahu usia Yang tak lagi bisa menggenggam tatapan Gelak tawa bersembunyi Pecah…

Bantah

Suatu masa Senandungkan gundah Bunga-bunga mengabu menghitam Gelisah digentayangi harapan   Pernah terlintas menerjang keindahan Yang tampak semu hiasi bayangan Ketika raga tak lagi mampu bertahan Dari keadaan begitu lama dalam bungkam   Hari hari kini adalah perjalanan satu rasa Hembus hangat kedalaman surya Cahaya yang kadang tinggikan Hingga terjerembab dimakan tanah   Bantah, bantah…

Eksesif

Jika rasa terus dipacu Menuju titik akhir Semua ingin menjadi milik Masihkah ada sisa?   Jika kau paksa telan semua Merampas yang bukan milik Lekat dalam keseharian Buat apa itu semua?   Menebalkan dinding pertukaran makna Tanda tanda mengikatmu Pergi kian jauh Memasung rongga luka   Jika jiwa tak lagi nafaskan Gelombang tak mampu bangkitkan…

Menyapa Semesta

Semesta Kau pasti kenali Belaian sayap burung besi Dan deru dengkurannya   Saat senja merona Mengintip antara gradasi aneka warna Di kanvas langit Kala pandang merayapinya   Dari kejauhan terlintas sang pencakar langit alami Melambai padaku Seraya berkata bahwa ia tak mengapa Jangan merisau

persekusialan!

sekumpulan massa terlupa membawa otaknya di suatu pagi hari bebas kendaraan berasap hanya sekian meter dari sapaan tugu selamat datang. sibuk teriak ganti ganti tanpa peduli apa yang ada di hati manusia manusia lainnya. hei, berhati hatilah kau yang mengatasnamakan pemuda apalah apalah apalah hanya punya caci tanpa peduli. paham pahamilah persekusi kepada manusia manusia…

Kabar Kabur Libur

kata kata kelu mengalir tiada bertuan, dari balik jendela kamar kamar yang hawanya membusuk tak terkirakan. sudah berjarak lamanya tuhan tak sama sekali punya niatan berkunjung. kurasa tikuspun mendadak mati menjengkali jalan jalan bercak bercak sejarahmu yang tak tuntas. kecoa seketika mengering garing. mending bisa dikunyah semacam kurma, lha ini busuk membesok. biarlah saja hari…