Nila; Heptologi Puisi Bianglala (6)

Derap menderap langkah cahaya Menusuk tusuk jantung jiwa Dalam keheningan sepi, merasa, meraba Mengalun simpul-simpul solidaritas   Menelisik telisik kedalaman gelombang Menebal tebal intoleransi Dalam keramaian kerumun, menyerang, menghakimi Mengepul rantai saling curiga   Belajar gejala dari jelaga tikam menikam Menawan tawan bhinneka tunggal ika Kian jenaka hapus budaya dari peradaban Manifestasi gerakan pemurnian keyakinan-keyakinan…

Kuning; Heptologi Puisi Bianglala (3)

Hey siangmu yang menyala Kutahu kau pasti terjaga Kuning menguning menyinari Serpihan hati   Meski serangkaian patah tak jua sirna Kau tatap, lara membara Suara berlebur getih Menyambut perih   Seketika kau rebut kesunyian Dalam perasaan syahdu berceloteh dengan Sang Pemberi Hidup Rampas kau rampas Semangkuk sakral ibadahku, yang mungkin kau tak kehendaki   Sadari,…

Jingga; Heptologi Puisi Bianglala (2)

Saat selasar langit merona jingga Pertanda hari sudah masuki waktu rentanya Datanglah senja mengayuh peradaban Titip harapan pada esok yang penuh misteri   Seperti yang tampak di hadapan tuan tuan berkalung kuasa Tanah pertiwi yang kita tinggali tak kunjung membaik Penghuninya senang bermain simbol simbol Tuhan bentukannya sendiri Kebenaran milik para pemegang kunci paling  …

Merah; Heptologi Puisi Bianglala (1)

Demokrasi patah arang Sedikit lagi masuk jurang Oleh mereka-mereka yang meninggikan berang Apa-apa main larang larang   Berhentilah halalkan perang Hanya akan redupkan terang Jangankan mengharap surga yang terus kau dengungkan Damai saja kian jauh dari genggaman   Ketika hari kian larut dikunyah senja Merah membasah serupa genangan Mengapa kau makin tak mengenal beda, entah!…

Pertarungan Hati

Butuh nyali menerobos kedalaman sepi Menyesap rongga rongga jiwa Saat mata hati menagih janji-janji Sedang indra penyuara kalah kuasa Kita adalah sekepingan muram Muda mudi yang berada di persimpangan Antara kenangan atau melangkah ke depan Melawan atau membungkam Diam bukanlah pilihan amunisi Ketika suara-suara dikedapkan Dimutilasi dicerai-berai Diawetkan sebagai bahan kudapan Politik dan kapital memang…

Diam itu Emas, Masa Iya?

Katanya diam itu emas Sementara emas Papua dikuras habis Terbang melayang bertukar dollar Masyarakatnya ngontrak di negeri sendiri Ditangkapi, dipukuli, dicap kriminal, dibunuh   Lalu, kita masih layak berdiam? Dan terus larut dalam geram?   Katanya diam itu emas Sementara di pelosok-pelosok, petani dikriminalisasi Dirampas tanahnya, ditanami beton, ditimbun semen Sawah-sawah gembur disulap menjadi pabrik,…

Selamat Malam, Pagi!

Selamat Malam, Pagi! Asap gundah mengepul Dalam selubung reuni-reuni Syahwat politik 2017 terlampiaskan Kini… 2018… 2019… dst… dst… Hingga nafsu kuasamu setara dengan tanah Kembali menghadap-Nya   Selamat Malam, Pagi! Dan kumpulan mimpi-mimpi Mengabu-abui persatuan Bernada sumbang dikentuti politisi Hingga simbol menjadi jimat Para cukong  dan mafia turun gelanggang berbagi peran   Di terangnya kita-kita…

Oh Bunyi Nyanyi… Nyanyi Bunyi…

Oh bunyi nyanyi… nyanyi bunyi… Nyanyian sumbang Membunyi nyinyir Mengaliri semu tiga deret angka Yang tersusun Seolah turun dari langit Kau tunggangi Kau tunggangi   Oh bunyi nyanyi… nyanyi bunyi… Kau tiupkan prasangka Merekayasa fakta Membunuh nalar Mengubur inTELEKtualitas Persetan dengan etika Ketika ilmu kau gadaikan Atas nama popularitas Ketika nurani kau setubuhi paksa Sembari…